Jumat, 17 Januari 2014

Pasar Tradisional

Meskipun di era modern seperti ini banyak swalayan atau mini market berdiri, pasar tradisional masih menjadi pilihan utama untuk berbelanja sayur-mayur, karena masih segar dengan harga yang pastinya lebih terjangkau.

Rutinitas di pasar ini masih sama, ada penjual, pembeli dan tentunya ada transaksi tawar-menawar, namun urusan yang terakhir mungkin perlu di garis bawahi, entah bapak yang kurang ahli dalam tawar menawar atau memang sudah menjadi watak lelaki ingin cepat dalam berbelanja, ah yasudahlah karena aku disini hanya menjadi asisten bapak dalam berbelanja, yang bertugas dalam memilih, memilih dan memilih sayur-mayur yang hendak di beli.

Tiga pulu menit adalah waktu yang dirasa cukup untu menyeleseaikan misi pagi ini. Yap, singkat, padat dan menghasilkan barang, tidak seperti aku yang mungkin membutuhkan waktu berjam-jam untuk membeli sesuatu namun ternyata tidak mengasilkan apa-apa -_-

Pasar, pasar, dan pasar. Entahlah sampai kapan tempat ini akan berdiri kokoh di desa kami, apalagi dengan banyaknya mini market yang mulai menjamur. Aku masih ingat, sebulan silam bahkan sudah ada 1 alfamart baru yang berdiri dengan kokohnya di jalan yang sama dengan jarak  tak kurang dari 1 km dari alfamart yang sudah lama berdiri sebelumnya.

Seperti yang sudah aku sampaikan di awal bahwa pasar masih menjadi pilihan, hal tersebut dibuktikan dengan masih ramainya pengunjung di pasar, namun tak dipungkiri, dengan semakin menjamurnya mini market seperti alfamart, indomart yang tentunya memiliki tempat yang “lebih nyaman” bukan hal yang tak mungkin lagi jika suatu hari nanti pasar akan hilang dari masyarakat. Terlebih lagi di mini market sering diadakan diskon atau potongan harga daripada pasar yang tidak ada istilah diskon akhir tahun atau hari besar.

Oleh karena itu pemerintah dalam hal ini harus melakukan renovasi dan penataan pasar agar pasar tradisinal memiliki daya saing sehingga dapat menarik perhatian masyarakat untuk kembali lagi ke pasar tradisional.


Cilacap. 18 Januari 2014

Kamis, 16 Januari 2014

Belajar Dari "Mereka"



            
 Sore itu, saat mentari mulai tenggelam, keramaian tiba-tiba menghampiri daerah kami. Aku hanya bisa menebak, menduga-duga dengan berbagai kemungkina, “Ah, mungkin ada yang sedang bertengkar, atau “ Barangkali ada yang arisan.” serta berbagai kemungkinan lainnya.

Hingga tepat pukul 19.00 ketika aku temanku keluar untuk membeli makan, sebuah bendera merah cukup menjadi penjelas, jawaban atas berbagai dugaan. Ya, keramaian itu karena tetangga kos kami sedang berduka cita.

Sepulang dari makan malam, kami berinisiatif untuk ta’ziyah, Tempat duka berada dekat dengan kos, jaraknya hanya 2 rumah dari kosan kami, sehingga cukup berjalan kaki maka sampailah kami di tempat. Saat itu jarum jam menunjukkan pukul 19.30 WIB.

Seperti yang sudah aku duga sebelumnya, ada yang berbeda pada ta’ziyah kali ini, dan ternyata benar, saat aku bersama teman memasuki rumah duka, karena bukan kain kafan putih yang aku lihat, bukan juga suara tahlilan yang aku dengarkan, melainkan jenazah yang sedang mengenakan jaz berwarna hitam dalam keheningan malam. Sepi.

Tak  hanya itu, kejutan lain adalah saat aku melihat sekeliling, tak ada kesedihan yang terpancar dari kerabat dekat mereka, bahkan dengan cekatan seorang istri mempersiapkan keperluan dari jenazah, suaminya sendiri.  Tanpa air mata, tanpa wajah penuh kesedihan.

Keesokan harinya aku menceritakan kejadian itu kepada teman di kampus, berdiskusi dengan teman non muslim,  Aku bertanya dengan hati-hati, “Semalam aku habis ta’ziah tapi aku bingung kok keluarganya tidak ada yang menangis.” Ucapku di pertengahan cerita.

Tanpa menunggu waktu yang lama, dia kemudian menjawab, “Ngapain nangis, orang dia mau ketemu Bapa” (Tuhan kepercayaan Mereka)

Deg. Aku hanya bisa membisu, tidak tahu harus menjawab apa.

         Hari itu, aku belajar dari mereka. Mereka yang non muslim, belajar bagaiman mereka menyikapi sebuah musibah. Karena benar,  Sesungguhnya hari yang paling dinanti oleh setiap umat manusia adalah hari dimana ia bisa bertemu dengan Sang Maha Pencipta, dan itu hanya bisa dilalui dengan kematian.
 Tapi entahlah, saat aku kehilangan orang yang disayangi apakah aku bisa sekuat mereka, tak menangis, entahlah.

            Karena setiap yang bernyawa pasti akan menemui kematian. Dan ketika saat itu tiba, semoga Islam yang menjadi agama pertama dan terakhirku, semoga asma Allah yang terucap saat sakharatul maut, dan semoga Allah mengampuni dosa-dosa kami.

Surakarta, 7 November 2013

Episode Kehidupan




Hari itu, tangan kami saling berjabat tangan, usai kami mengeluarkan penat kami masing-masing, sebuah impian untuk mengakhiri sebuah cerita.

Tentang suatu rencana di masa mendatang, untuk kembali mengawali sebuah episode kehidupan,

Bukan seperti apa cerita ini akan berakhir yang kami bicarakan, karena  yang terpenting adalah bagaimana kami memulainya.

Hari itu, adalah sebuah awal, yang kembali menjadi pengingat, untuk mimpi-mimpi kehidupan

Semoga Allah memberikan kemudahan,

Membukakan jalan untuk orang-orang yang tak pernah berhenti berjuang.


Surakarta, 11 Desember 2013

Minggu, 18 Agustus 2013

Impian Seorang Anak FKIP



Bangga rasanya bisa menjadi bagian dari bangsa ini, tapi apakah bangsa ini bangga memiliki anak bangsa seperti saya?

Mimpiku jauh di ujung negeri, di sebuah kepulauan yang dilewati oleh garis khatulistiwa, dengan kekayaan alamnya yang luar bisaa, namun terdapat sebuah tempat dengan pendidikan yang sangat memprihatinkan, tempat yang justru berbatasan langsung dengan negeri tetangga, Serawak, Kalimantan Timur tepatnya.

Atau daerah  dengan penghasilan  tambang terbesar dan keindahan bawah lautnya, namun juga memiliki pendidikan yang tertinggal dari kata maju, terutama di daerah pedalaman.

Impianku sangat sederhana. Se-sederhana aku memandang negeri ini. Tak perlu janji-janji besar yang katanya kan memajukan bangsa. Berkilah dengan 1000 alasan yang bisa mereka lakukan untuk  membangun negeri, atau berharap pada yang tak pasti.

Impianku sangat sederhana. Menjadi seorang guru yang ingin berkeliling sampai ke ujung negeri,

Impianku sangat sederhana. Berbagi ilmu meski ku tahu ilmuku sangat terbatas.

Impianku sangat sederhana. Satu langkah kecil yang kuharap bisa mencerdaskan anak bangsa.

Semoga Allah memberikan jalan untuk impian yang sangat sederhana ini.



Cilacap, 18 Agustus 2013









Minggu, 07 Juli 2013

Selamat Jalan Kawan


Bismillah, ini adalah sebuah puisi yang terinspirasi dari orang yang telah ditinggal pergi oleh sahabatnya untuk selama-lamanya.














Selamat Jalan Kawan

Oleh : Yuli Amiroh

Setetes tinta tergores
Menumpahkan segala rasa yang menyeruak
Berteriak dalam sebuah asa
Aku tahu kau ingin lepas, kawan…

Namun nafas masih berhembus
Saat lara semakin tak terarahkan
Semua bagai sebuah titik tak berujung
Ah, apakah kau tengah terbang nan tinggi?

Bersama sejuknya hembusan angin malam
Bersinar oleh kemilau cahaya rembulan
Menari-nari dengan eloknya
Hingga burung-burung tak henti menatapmu
Bunga bermekaran bersemi menyambut kehadiranmu

Bebas, Lepas….
Kau telah melangkah dengan sebuah harapan,
Meninggalkan jejak-jejak kemuliaan.

Hari  ini adalah hal terindah
Semua lara tlah sirna
Kau kembali dengan wajah berseri
Sebuah pertemuan dengan cinta yang murni
Selamat jalan kawan.


Solo, 12 Juni 2013.

Jumat, 05 Juli 2013

Sebuah Nama


Bapak, tulisan ini untukmu, Hanya tulisan tak bermakna dari seseorang yang sangat merindukanmu.

(Foto Bapak dan Kakak)

Sebuah Nama

Aku tak pernah meminta untuk terlahir dari seseorang yang mulia sepertimu,
Namun Allah memberinya lebih.
Allah memberiku sepasang malaikat di kehidupanku.
Malaikat yang selalu menyayangiku, bahkan disaat aku melukai perasaannya.

Tidak ada yang sempurna di dunia ini
 karena sesungguhnya kesempurnaan hanya milik-Nya,
Maafkan aku bapak, aku tidak bisa menjadi seperti yang engkau harapkan.
Aku hanyalah seorang anak yang sangat biasa.
Aku tak sepandai adik.
Juga tak setegar kakak.
Aku bukan orang yang pandai berbicara sepertimu.
Untuk mengabarkan janji-janji Allah kepada umat-Nya
dan menegakkan Agama Allah.
Aku terlalu malu untuk hanya sekedar berbicara di khalayak ramai.

Maafkan aku bapak..
Mungkin  kelak aku hanya akan menjadi orang yang sangat biasa..
Bukan seperti mereka yang selalu memberi janji kemajuan bangsa.
Bukan seperti mereka yang berkilah akan membela rakyat kecil.

Namun satu hal. Aku berjanji.
Seperti doa yang engkau berikan lewat sebuah nama..
Menjadi seorang pemimpin.
Walau mungkin hanya sekedar menemani  anak-anak kecil bermain persimpangan jalan.
Walau mungkin hanya sekedar memberikan segelas air 
untuk mereka yang harus akan ilmu pengetahuan..
Menjadi pengajar di pesisir pantai sampai ke penghujung negeri

Bapak, terimakasih..
Untuk sebuah nama yang sangat berharga..
Semoga kelak akan lahir pemimpin-pemimpin dari orang yang yang sangat biasa ini..
Pemimpin di Bulan Juli, Yuli Amiroh





Jumat, 31 Mei 2013

Bunga Yang Mekar di Musim Yang Salah



Hari ini aku melihat temanku galau lagi. Setiap hari dalam beberapa hari terakhir ini cerita itu yang selalu aku dengar. Berulang kali. Hingga akupun mulai hafal dengan sendirinya. Begitu menyedihkankah putus itu? Hubungan percintaan yang hanya berjalan selama beberapa bulan ternyata mampu membuat seseorang menjadi linglung dan suka melamun.

Cinta.

Itulah dampak dari mencintai. Yang kita cintai belum tentu mencintai kita, begitu juga sebaliknya.

       Tiba-tiba aku jadi teringat beberapa minggu yang lalu saat aku berkumpul bersama teman. Saat itu kami bermain games, siapa yang kalah dia berkewajiban untuk menjawab pertanyaan dengan jujur. Saat itu aku kalah sehingga aku harus menjawab pertanyaan dari temanku. Salah satu teman bertanya “Yuli, kapan kamu mau pacaran?” Deg, ditanya seperti itu aku benar-benar bingung harus menjawab apa, hingga aku hanya bisa menjawab “Hehe, ngga tau” Ya, hanya itu yang bisa aku katakan.

      Sepulang dari warung makan aku memikirkan kembali pertanyaan temanku itu. Pacaran? Hmmmm. Emang dosa ya kalo aku belum pernah pacaran? Huhu, kok kayaknya dipandang lain dan menjadi keharusan buat seseorang “pacaran”

         Dan, oyaa belum pernah pacaran bukan berarti belum pernah jatuh cinta kan? Alhamdulillah aku pernah, namun aku hanya berani menyimpannya. Dalam diamku. Apa aku salah?

      Setiap kali hati mengatakan tertarik dengan nya aku selalu mencoba memendamnya. Menuliskan namanya dalam setiap coretanku atau sekedar berangan-angan jika hati ini benar-benar berlabuh bersamanya. Dan ternyata sudah 19 tahun. Sudah selama itu aku jomblo, aku bisa kan? Dan ternyata aku masih bisa hidup lho masih bisa ketawa-ketawa juga.

         Meski terkadang aku pernah merasa tersiksa. Di saat orang lain bisa dengan mudah menyampaikan isi hatinya kepada sosok yang ia sukai aku hanya bisa diam menyimpannya erat-erat agar ia tak mengetahuinya.

Kerena aku selalu ingat dengan perkataan seorang teman :

“Jadilah baik maka kamu akan mendapatkan yang baik” 

Aku memang bukan orang baik maka dari itulah aku belajar agar kelak aku bisa mendapatkan seseorang yang baik. Aamin.

 Aku belajar untuk berusaha menjaga hatiku untuknya, siapapun itu.  Aku percaya ketika aku bisa menjaga hatiku maka ia juga akan menjaga hatinya untukku. Karena suatu hari nanti, siapapun itu, hati ini pasti akan berlabuh,

“Jangan menjadi bunga yang mekar di musim yang salah”

Selasa, 15 Januari 2013

Bunga Matahari, Si Kuning yang Tangguh dan Setia



Bismillah, saatnya menulis J

Sebenarnya ini tulisan lama tapi aku pengen posting di blog. Dan melewati tulisan ini aku ingin menceritakan mengeni suatu hal, yang dalam bahasa inggris istilah itu sering disebut dengan “sun flower”. Sedangkan dalam kehidupan sehari-hari kita menyebutnya dengan “bunga matahari.”
Bunga Matahari… Aku menyebutnya si kuning yang Tangguh dan setia.
Kenapa bisa bergitu???

====

Bunga Matahari..saking penasarannya dengan si kuning ini sampai-sampai aku browsing di mbah google lho, hehe J Dan setelah berjalan kesana kemari, akhirnya aku mendapati suatu pernyataan menarik tentang si cantik ini.




Bunga Matahari itu besar, tampak kokoh

Bunga matahari itu berwarna kuning sehingga terlihat cerah dan ceriaaa.

Bunga matahari itu selalu menghadap ke arah sinar matahari dan dia selalu berusaha mencari terang.

Dari bijinya pun dapat dimakan dan bermanfaat untuk kesehatan.




Dan buatku bunga matahari adalah si kuning yang tangguh dan setia,

Karena dari batangnya yang kecil ia mampu menopang bunga yang besar, itu melambangkan kekuataan dan ketangguhan,

            Bunga matahari selalu menghadap ke arah sinar matahari, karna sepanjang hari,ia hanya mengikuti kemana matahari pergi. Dimana arah sinar matahari itu berada, disitulah  bunga matahari menghadap. Dan dia akan selalu begitu sampai sinar matahari pergi.. sungguh sosok yang bergitu setia..
           
      Semoga suatu hari nanti kita bisa menjadi sosok yang tangguh dan setia seperti bunga matahari, yang mampu belajar menerima kedaan, belajar mengerti orang lain, dan belajar mengenai pentingnya menghargai J

Kedelai, Seperti itukah Aku?


Entah bagaimana aku harus mengekspresikan semua ini. Apa aku harus menangis sekencang2nya hingga semua orang akan bertanya-tanya apa yang sedang terjadi, atau aku harus  tetap diam dan menganggap semua ini tidak pernah terjadi.
===

            Hari ini aku merasa seperti habis dijatuhkan. Sakit banget ya. Saking sakitnya meneteskan air matapun terasa sangat sulit. Sulit banget.
            Biar saja mereka berkata “aku berlebihan” atau “aku terlalu memasukkannya ke hati” atau “Aku yang terlalu sensitif”  …ah, masa bodoh. Bodoh..bodohh..bodoh.
            Aku ini bodoh sekali ya, aku seperti kedelai saja.
Kedelai?? Seperti itukah aku??
“Mungkin iya, Karena Cuma kedelai yang dapat jatuh kedalam lubang yang sama”
Karena Cuma kedelai yang dapat jatuh dilubang yang sama yul, ngerti kan?
======

Tapi Aku ga mau jadi kedelai, pokoknya aku ga mau.
“Aku ga mau Ya Allah. Aku mohon semoga ini untuk yang terkahir kalinya, Aku ga mau terulang kembali ya Allah. Buat Aku, dan juga Buat orang-orang yang aku sayangi.”
“Aku Mohon Ya Allah, Tolonglah hambamu ini, Engkaulah yang Maha Penolong, dan Hanya kepadamulah Hamba memohon pertolongan.”



Cilacap, 16 januari 2013